Kenapa urutan shio dimulai dari Tikus, bukan hewan yang lebih besar atau kuat? Ini legenda Lomba Besar Kaisar Langit, dari trik licik Tikus sampai kenapa Kucing tidak pernah masuk 12 shio.

Setiap tahun kelahiran di budaya Tionghoa punya lambang hewan sendiri, dari Tikus sampai Babi, berputar tiap 12 tahun. Tapi kenapa urutannya dimulai dari Tikus, hewan paling kecil di antara semuanya? Dan kenapa Kucing, yang jelas-jelas dekat dengan manusia sejak dulu, malah tidak pernah kebagian tempat?
Jawabannya ada di satu legenda yang sama tuanya dengan sistem zodiak itu sendiri: Lomba Besar yang diadakan Kaisar Langit. Berikut urutan lengkapnya, dari yang menang karena akal licik sampai yang datang paling akhir karena ketiduran.
Konon, 玉帝 (Yùdì), Kaisar Langit, ingin menentukan urutan tahun dengan cara yang adil sekaligus menghibur: mengadakan lomba menyeberangi sungai besar sampai ke istananya. Siapa pun yang tiba lebih dulu, namanya dipakai untuk tahun itu, urut sesuai kedatangan.
Semua hewan di bumi diundang, tapi tidak semua ambil bagian. Yang muncul di garis start pagi itu punya cara masing-masing menghadapi sungai deras di depan mereka, dan di situlah cerita sebenarnya dimulai.
牛 (Niú), si Kerbau, adalah favorit untuk menang. Ia bangun paling pagi, berenang paling gigih, dan sudah hampir sampai ke seberang saat hewan lain masih berjuang di tengah sungai.
Yang tidak disadarinya, 鼠 (Shǔ) si Tikus menumpang diam-diam di punggungnya sejak awal. Tikus tahu dirinya terlalu kecil untuk melawan arus sendirian, jadi ia memilih strategi yang lebih cerdik: biarkan Kerbau melakukan semua kerja keras. Begitu mereka hampir menyentuh daratan, Tikus melompat turun dan berlari ke garis akhir lebih dulu.
Itulah kenapa Tikus, meski hewan paling kecil dalam daftar, jadi shio pertama, bukan karena paling kuat, tapi karena paling licik memanfaatkan situasi. Kerbau yang sudah bekerja paling keras harus puas di posisi kedua.
虎 (Hǔ), si Macan, punya tenaga berenang yang tidak diragukan. Masalahnya, arus sungai itu sendiri terlalu deras baginya, berkali-kali ia terseret mundur sebelum akhirnya berhasil menyeberang di posisi ketiga.
兔 (Tù), si Kelinci, punya masalah sebaliknya: ia sama sekali tidak jago berenang. Alih-alih memaksakan diri, Kelinci melompat dari satu batu ke batu lain di tengah sungai, lalu naik ke sebatang kayu yang mengapung. Ia hanyut cukup lama, sampai akhirnya hembusan angin yang beruntung mendorongnya ke tepian. Kelinci pun menyusul di posisi keempat, murni berkat sedikit keberuntungan di saat yang tepat.
Ini bagian yang paling sering bikin orang bingung: 龙 (Lóng), si Naga, bisa terbang. Secara logika ia seharusnya jadi juara mutlak, tiba jauh sebelum yang lain bahkan sempat basah.
Tapi Naga dalam cerita ini bukan sekadar makhluk kuat, ia juga baik hati. Di tengah perjalanan, ia mampir dulu untuk menurunkan hujan bagi sebuah desa yang sedang dilanda kekeringan. Kebaikan itu memakan waktu, dan Naga baru tiba di posisi kelima, tepat setelah Kelinci.
Sementara itu, 蛇 (Shé) si Ular, punya cara sendiri untuk menghemat tenaga: bersembunyi diam-diam di dekat kaki 马 (Mǎ), si Kuda, tanpa disadari. Begitu mereka hampir menyentuh garis akhir, Ular muncul mendadak, cukup untuk membuat Kuda kaget dan mundur sejenak. Momen kejut itu memberi Ular celah untuk menyalip ke posisi keenam, sementara Kuda yang sempat unggul harus puas di posisi ketujuh.
Tidak semua hewan menyeberang sendirian. 羊 (Yáng), 猴 (Hóu), dan 鸡 (Jī) sama-sama kesulitan berenang jauh, jadi mereka memutuskan bekerja sama membangun rakit sederhana dari kayu dan ranting yang mereka temukan di tepi sungai.
Kambing membantu membersihkan rumput dan tanaman air yang menghalangi jalan rakit, Monyet mengemudikannya melewati bagian sungai yang paling berarus, dan Ayam, yang pertama kali melihat daratan dari kejauhan, berkokok memberi semangat pada dua rekannya. Berkat kerja sama itu, ketiganya tiba berurutan di posisi kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh, bukti bahwa tidak semua orang harus menang sendirian untuk tetap sampai di garis akhir.
Ironisnya, dua hewan yang secara kemampuan paling tidak punya alasan untuk terlambat justru mengisi dua posisi terakhir.
狗 (Gǒu), si Anjing, adalah salah satu perenang terbaik di antara semua peserta. Seharusnya ia bisa finis jauh lebih awal. Tapi begitu menyentuh air, Anjing tidak bisa menahan diri untuk bermain dan mandi menikmati sungai, lupa kalau sedang ikut lomba. Ia baru sadar dan menyeberang di posisi kesebelas.
猪 (Zhū), si Babi, punya alasan yang lebih sederhana: di tengah perjalanan, perutnya keroncongan. Ia berhenti untuk makan sepuasnya, dan begitu kenyang, rasa kantuk datang tak tertahankan. Babi tertidur di tepi sungai dan baru melanjutkan perjalanan setelah bangun, tiba paling akhir, menutup putaran 12 shio di posisi kedua belas.
Ini bagian legenda yang paling sering diceritakan terpisah, karena jawabannya menyentuh hubungan dua hewan yang sampai sekarang dikenal tidak akur: kucing dan tikus.
猫 (Māo), si Kucing, waktu itu adalah teman dekat Tikus dan sama-sama ingin ikut lomba. Karena keduanya sama-sama tidak jago berenang, Tikus berjanji akan membangunkannya pagi-pagi sebelum lomba dimulai. Tapi hari itu tiba, dan Tikus tidak menepati janjinya, entah lupa, atau memang sengaja supaya tidak ada saingan tambahan.
Kucing pun tertidur sepanjang lomba dan tidak pernah sempat ikut sayembara sama sekali. Karena itulah namanya tidak pernah masuk ke dalam 12 shio. Menurut legenda ini, dari kejadian itulah asal mula kenapa kucing dan tikus dianggap musuh abadi dalam budaya rakyat Tionghoa, sebuah dendam yang katanya masih "diwariskan" sampai kucing dan tikus zaman sekarang.
Urutan 12 shio ini bukan sekadar cerita hiburan pengantar tidur. Sampai sekarang, urutan itu tetap dipakai serius dalam penanggalan Tionghoa, menentukan shio kelahiran seseorang, sampai perhitungan elemen dalam BaZi (Empat Pilar Nasib). Setiap shio juga membawa sifat yang konon diwariskan dari perannya dalam lomba, Tikus yang cerdik, Kerbau yang gigih, Kelinci yang beruntung, sampai Babi yang tulus dan santai.
Seperti kebanyakan legenda rakyat, detail kecilnya (terutama siapa mengerjakan apa di rakit Kambing, Monyet, dan Ayam) bisa sedikit berbeda tergantung siapa yang menceritakan. Tapi urutan 12 hewan itu sendiri, dari Tikus di posisi pertama sampai Babi di posisi terakhir, tetap sama di seluruh versi cerita.
| Posisi | Hanzi | Pinyin | Hewan | Kenapa di posisi ini |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 鼠 | shǔ | Tikus | Menumpang Kerbau, loncat duluan di garis akhir |
| 2 | 牛 | niú | Kerbau | Paling rajin, tapi ditipu Tikus |
| 3 | 虎 | hǔ | Macan | Kuat, tapi berkali-kali terseret arus |
| 4 | 兔 | tù | Kelinci | Menyeberang lewat batu dan kayu, terbantu angin |
| 5 | 龙 | lóng | Naga | Bisa terbang, tapi mampir menurunkan hujan |
| 6 | 蛇 | shé | Ular | Menumpang diam-diam di kaki Kuda, mengejutkannya |
| 7 | 马 | mǎ | Kuda | Sempat unggul, kaget oleh Ular |
| 8 | 羊 | yáng | Kambing | Bekerja sama membangun rakit |
| 9 | 猴 | hóu | Monyet | Mengemudikan rakit bersama |
| 10 | 鸡 | jī | Ayam | Pertama melihat daratan |
| 11 | 狗 | gǒu | Anjing | Perenang jago, tapi keasyikan main air |
| 12 | 猪 | zhū | Babi | Berhenti makan, lalu ketiduran |
Kucing (猫, māo) tidak termasuk sama sekali, bukan karena kalah lomba, tapi karena tidak pernah sempat ikut sayembara.
Kalau kamu penasaran shio dan elemen BaZi kelahiranmu sendiri, coba kalkulator gratis di zhongwen.id/bazi, tinggal masukkan tanggal lahir, dan kamu bisa lihat shio, elemen, sampai pilar nasibmu lengkap.
HSK 1–3 gratis lengkap dengan pinyin & arti, plus semua lagu dengan lirik berjalan di Zhongwen.id.
Mulai belajar gratis